Temanggung, Harianpantura.com – Produksi kopi di Kabupaten Temanggung pada musim panen tahun ini mengalami penurunan signifikan. Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi saat fase pembungaan menjadi penyebab utama berkurangnya hasil panen kopi, baik jenis robusta maupun arabika.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Sumarno, mengatakan penurunan produksi diperkirakan mencapai 40 hingga 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, curah hujan yang tinggi saat tanaman kopi memasuki masa pembungaan mengakibatkan banyak bunga gagal berkembang menjadi buah. Akibatnya, jumlah buah yang dipanen tahun ini jauh berkurang.
“Curah hujan yang tinggi saat fase pembungaan menyebabkan banyak bunga kopi tidak berhasil menjadi buah, sehingga produksi menurun cukup tajam,” ujarnya, kemarin.
Meski hasil panen menyusut, harga kopi arabika justru menunjukkan tren kenaikan. Saat ini harga cherry arabika berada pada kisaran Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar Rp15.000 per kilogram.
Kenaikan harga bahan baku tersebut diperkirakan akan berdampak pada harga produk kopi arabika olahan di tingkat konsumen.
Di sisi lain, panen kopi arabika pada Juni 2026 berlangsung di lahan seluas sekitar 1.700 hektare yang tersebar di wilayah dataran tinggi Temanggung dengan ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut. Sentra produksi kopi arabika berada di kawasan lereng Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prahu.
Adapun wilayah pengembangan kopi arabika meliputi Kecamatan Selopampang, Tembarak, Tlogomulyo, Bulu, Parakan, Kledung, Bansari, Ngadirejo, Candiroto, Wonoboyo, Tretep, hingga Kaloran.
Untuk mendukung peningkatan produktivitas tanaman kopi, pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menyalurkan bantuan sekitar 600 ribu bibit kopi kepada Kabupaten Temanggung pada tahun 2026. Bibit tersebut akan digunakan untuk pengembangan dan rehabilitasi lahan kopi seluas 600 hektare.
Sumarno menjelaskan, dari total bantuan tersebut, sekitar 100 hektare dialokasikan untuk peremajaan tanaman kopi robusta yang sudah memasuki usia tua dan mengalami penurunan produktivitas. Sementara itu, pengembangan kopi arabika mendapat porsi lebih besar melalui program penanaman baru dan perluasan areal tanam.
“Bantuan bibit ini diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produksi. Minat masyarakat untuk menanam kopi di Temanggung saat ini sangat tinggi,” katanya. (Red)
















































