Semarang, Harianpantura.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan hantavirus. Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng memastikan belum ditemukan kasus positif penyakit tersebut di wilayah Jawa Tengah.
Kepala Dinkes Jateng, Zulfachmi Wahab, menjelaskan hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penyakit ini disebut sebagai reemerging disease karena pernah muncul sebelumnya dan kembali menjadi perhatian.
“Di Jawa Tengah terakhir dilaporkan pada 2023, dan sampai sekarang belum ada kasus baru,” ujar Zulfachmi, Selasa (19/5/2026).
Ia menerangkan, penularan hantavirus dapat terjadi melalui kontak dengan air liur, urine, maupun kotoran tikus yang terinfeksi. Virus juga dapat menyebar saat partikel kotoran atau urine yang mengering terhirup manusia.
Menurutnya, area dengan populasi tikus tinggi seperti kawasan pelabuhan perlu menjadi perhatian khusus. Kasus hantavirus yang pernah ditemukan di Jateng sebelumnya tercatat di wilayah pelabuhan Kabupaten Demak pada 2023.
Zulfachmi mengatakan, hantavirus dapat menyerang sistem pernapasan dan ginjal. Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain demam, nyeri dada, nyeri perut, gangguan buang air kecil, hingga muncul bercak merah pada selaput mata. Dalam kondisi berat, penyakit ini berisiko menyebabkan perdarahan dan gagal ginjal.
“Kalau ada gejala seperti demam, nyeri perut, bercak merah di mata, atau tanda perdarahan, segera periksa ke fasilitas kesehatan, agar tidak jatuh pada stadium gagal ginjal,” katanya.
Untuk memastikan diagnosis, pasien perlu menjalani pemeriksaan PCR dan serologis di rumah sakit rujukan. Dinkes Jateng juga telah memberikan edukasi kepada fasilitas kesehatan hingga tingkat puskesmas terkait deteksi dini hantavirus.
Sebagai upaya peningkatan kesiapsiagaan, Dinkes Jateng akan menggelar program edukasi “Jumat Pintar” yang melibatkan 883 puskesmas di seluruh Jawa Tengah. Program tersebut ditujukan untuk memperkuat pemahaman tenaga kesehatan mengenai penanganan hantavirus.
Selain itu, delapan rumah sakit milik Pemprov Jateng telah disiapkan untuk menangani pasien yang diduga terinfeksi hantavirus. Tiga rumah sakit rujukan utama yakni RS dr Adhyatma MPH Semarang, RS Prof Dr Margono Purwokerto, dan RS Dr Moewardi Surakarta.
Zulfachmi menambahkan, hingga kini belum tersedia vaksin untuk hantavirus. Meski demikian, peluang kesembuhan tetap tinggi apabila penyakit dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.
“Semakin cepat dikenali dan diobati, maka angka kematian akan semakin rendah,” ujarnya.
Dinkes Jateng pun mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, rajin mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri di area rawan tikus, serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat. (Hms)


























































