Kendal, Harianpantura.com – Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramianto menyoroti keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Desa Kediten, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, yang berada di kawasan terpencil di lereng Gunung Prau.
Koperasi yang berada di ketinggian sekitar 1.385 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu dijuluki sebagai koperasi “di atas awan”. Namun, lokasinya yang jauh dari pusat aktivitas ekonomi dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan usaha.
Bram, sapaan akrab Eddy Sulistiyo Bramianto, mengatakan KDKMP di wilayah terpencil harus mampu menghadirkan inovasi usaha yang sesuai dengan potensi daerah setempat.
“Untuk pendekatan dengan KDKMP yang lokasinya kurang strategis seperti berada di pegunungan atau area hutan dilakukan dengan terus memberikan inovasi usaha yang sekiranya potensial di daerah tersebut,” kata Bram, belum lama ini.
Menurutnya, koperasi di kawasan pegunungan tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi masyarakat, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis alam.
“Selain inovasi tersebut tentunya juga perlunya dukungan aktif dari pemda setempat untuk dapat mendukung kegiatan KDMP,” ujarnya.
Ia juga mendorong KDKMP menjalin kemitraan dengan BUMN, BUMD maupun sektor swasta untuk memperluas skala usaha dan memperkuat keberlanjutan koperasi.
Selain itu, Dinkop UKM Jawa Tengah berencana memberikan pelatihan bagi koperasi yang dinilai membutuhkan pendampingan khusus, terutama dalam mengolah potensi lokal agar memiliki nilai tambah ekonomi.
Bram mencontohkan produk lokal seperti lele dapat diolah menjadi bahan pangan siap saji sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Selain itu Dinkop juga berupaya agar KDMP dapat bermitra dengan himbara atau lembaga keuangan seperti LPDB serta KSP/KSPPS untuk akses permodalannya, seperti program kakak asuh,” terangnya.
Ia menegaskan fungsi utama KDKMP, baik di desa maupun perkotaan, adalah melayani kebutuhan anggota dan masyarakat sekitar. Namun, khusus untuk wilayah perkotaan, koperasi dituntut mulai mengadopsi pendekatan berbasis digital.
“Namun, butuh pendekatan berbasis digitalisasi terutama KDKMP yang berlokasi di perkotaan,” jelasnya.
Bram berharap keberadaan KDKMP mampu menjadi penguat ekonomi masyarakat, terutama dalam menyediakan kebutuhan konsumsi dengan harga terjangkau.
Tak hanya itu, koperasi juga diharapkan menjadi agregator produk unggulan desa hingga berperan sebagai offtaker bagi potensi sumber daya alam masyarakat agar roda usaha koperasi tetap berkelanjutan.
“Bahkan, KDKMP bisa menjadi offtaker untuk desa yang memiliki potensi sumber daya alam yang bisa dijual sehingga aspek kelembagaan maupun usahanya bisa tetap berkelanjutan,” pungkasnya. (Red)





















































