Banyumas, Harianpantura.com – Keinginan menunaikan ibadah haji akhirnya terwujud bagi Sucipto, warga Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. Pria berusia 64 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Pon itu dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 14 Mei 2026 melalui Embarkasi Solo bersama Kloter 73.
Perjalanan Sucipto menuju Baitullah bukanlah proses singkat. Dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari dari pekerjaan mengatur kendaraan di area parkir pasar, ia harus menyisihkan uang sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Selain menjadi tukang parkir, Sucipto juga bekerja sebagai penjaga keamanan malam di kawasan perumahan untuk menambah penghasilan keluarga.
“Kalau ada sisa uang setelah kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak, saya tabung untuk haji,” kata Sucipto.
Ia mulai serius menabung sejak 2012. Saat itu, ketiga anaknya masih membutuhkan biaya pendidikan sehingga ia harus pandai membagi penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, dan tabungan haji.
Menurut Sucipto, nominal tabungan yang disisihkan tidak menentu. Terkadang hanya puluhan ribu rupiah, tergantung kondisi keuangan keluarga saat itu.
Tabungan tersebut kemudian dikumpulkan hingga akhirnya cukup untuk mendaftar haji. Namun, demi memenuhi biaya setoran awal sebesar Rp25,5 juta, Sucipto memutuskan menjual sebidang tanah miliknya.
“Tanah saya jual untuk menambah biaya setoran awal,” ujarnya.
Sejak 1999, Sucipto bekerja di Pasar Pon dan dikenal banyak pedagang maupun pelanggan pasar. Karena itu, kabar keberangkatannya ke Tanah Suci disambut hangat oleh warga dan rekan-rekannya.
Beberapa tetangga bahkan datang langsung ke rumahnya untuk memberikan doa dan ucapan selamat menjelang keberangkatan.
Kini, berbagai perlengkapan ibadah telah dipersiapkan. Sucipto juga rutin menjaga kondisi fisik dengan berjalan kaki setiap pagi serta mengikuti manasik dan vaksinasi haji.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Banyumas, H Afifuddin Idrus, mengatakan kisah Sucipto menjadi contoh bahwa ibadah haji bisa diraih dengan tekad dan kerja keras.
“Kalau ada kemauan dan kesungguhan, pasti ada jalan. Beliau membuktikan itu,” katanya.
Afifuddin menyebut Banyumas memiliki sejumlah calon jamaah haji dari kalangan masyarakat sederhana dengan kisah perjuangan serupa. Menurut dia, hal itu menunjukkan bahwa semangat dan ketekunan menjadi modal penting untuk mewujudkan impian berhaji.
Bagi Sucipto, keberangkatan ke Tanah Suci bukan hanya perjalanan ibadah, tetapi juga hasil dari perjuangan panjang menjaga harapan di tengah keterbatasan ekonomi. (Red)


















































