KEPUTUSAN Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, untuk secara terbuka mendukung Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam Kongres Nasional di Solo, Sabtu 19 Juli 2025, bukan sekadar pernyataan biasa. Melainkan, sebuah sinyal kuat yang berpotensi mengubah dinamika peta politik nasional. Dalam sambutannya di hadapan ribuan kader, Jokowi menegaskan komitmennya untuk bekerja keras demi membesarkan PSI, bahkan menyatakan siap “bekerja di depan, di tengah, maupun di belakang” untuk partai yang kini dipimpin sang putra, Kaesang Pangarep. Pernyataan ini jelas bukan dukungan biasa: ini adalah lampu hijau sekaligus legitimasi politik berkelas tinggi bagi PSI—partai yang selama ini dikenal dengan basis pemilihnya yang muda dan urban.
Menariknya, Kongres PSI 2025 juga mencatatkan Kaesang untuk kedua kalinya sebagai Ketua Umum, periode 2025–2030. Langkah ini bukan tanpa alasan. Di satu sisi, PSI ingin semakin menguatkan identitas sebagai partai anak muda yang berbeda dari partai lama. Di sisi lain, penetapan Kaesang, yang notabene putra bungsu Jokowi, juga mempertegas keterkaitan partai dengan kekuatan politik “klan” Jokowi—sebuah penguatan posisi dari sisi simbolik sekaligus strategi elektoral. PSI tidak hanya ingin dikenal sebagai “partai mantan anak Presiden”, melainkan juga ingin membangun narasi sebagai alternatif baru.
Dukungan Jokowi: Modal Intangibel atau Strategi Jangka Panjang?
Dari sisi analisis politik, dukungan terbuka Jokowi terhadap PSI pantas dikategorikan sebagai game-changer. Pengalaman, karisma, dan jejaring Jokowi adalah modal sangat penting untuk memacu percepatan pertumbuhan sebuah partai baru. Kita masih ingat, pada masa-masa awal, elektabilitas Jokowi didukung kuat oleh partai besar, namun kali ini, ia justru menempatkan diri sebagai backbone partai baru. Jika Jokowi serius “turun gunung”, bukan tidak mungkin PSI bisa menjadi “efek Jokowi jilid dua” yang akan menggeser peta kekuatan politik nasional.
Namun, perlu kehati-hatian. Daya tarik tokoh memang penting, namun sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa kejayaan partai tidak bertumpu semata pada figur, melainkan pada kemampuan membangun struktur yang kuat hingga ke akar rumput, serta pengelolaan narasi politik yang terukur. Dalam konteks ini, PSI masih memiliki pekerjaan rumah besar: memperkuat basis, membangun jaringan lokal, serta menciptakan program yang relevan dengan anak muda. Tanpa itu, popularitas akan mudah menguap, dan PSI bisa terjebak pada fenomena “efek sesaat”.
Ekspektasi Publik dan Ujian Integritas PSI
Dukungan Jokowi tentu menambah energi positif bagi PSI, khususnya jelang pemilu-pemilu ke depan. Namun, masyarakat akan jeli mengamati: apakah PSI benar-benar menjadi kekuatan politik baru yang independen, atau sekadar “menumpang nama besar” mantan presiden? Kredibilitas PSI akan diuji, baik dari sisi kebijakan, stok calon legislatif yang kompeten, hingga program nyata di level basis.
Untuk saat ini, setelah kongres, belum tampak langkah-langkah besar PSI di lapangan. Namun, modal dukungan Jokowi—baik secara terbuka maupun diam-diam—sudah menjadi “vitamin lengkap” bagi PSI. Raja Juli Antoni, pendiri partai, menyatakan publik sudah cukup cerdas memahami pesan politik Jokowi, meskipun secara formal dan legal belum ada dokumen resmi yang menempatkan mantan presiden sebagai bagian dari partai. Inilah keunikan politik Indonesia: ada banyak aspek informal yang justru lebih berpengaruh ketimbang dokumen resmi.
Titik Balik PSI: Di Mana Jalan Selanjutnya?
PSI kini berada di persimpangan. Mereka bisa menggunakan momentum ini untuk memperluas basis, mengonsolidasi kekuatan, dan membangun identitas sebagai partai reformis yang konsisten, atau terjebak pada euforia figur. Tantangan terbesar PSI adalah menciptakan kaderisasi yang berkelanjutan, membangun narasi yang relevan dengan perubahan zaman, serta membuktikan diri sebagai partai yang tidak tergantung pada satu figur saja.
Jika berhasil, PSI bisa menjadi alternatif menarik bagi pemilih yang merasa tidak lagi terwakili partai-partai lama. Namun, jika salah langkah, PSI bisa hilang di tengah jalan, dan tidak mampu memanfaatkan momentum emas ini. Semuanya sangat bergantung pada komitmen kolektif internal partai, sekaligus kemampuan membaca dan menyambut ekspektasi publik. (*)
Penulis: Abdul Rosyid T Walid (Direktur PT. Triumvirat Media Pantura, Sekretaris ICMI Rembang)


















































