BeritaBlora

Omzet Gerai KDKMP di Blora Belum Stabil, Ada yang Hanya Rp6 Ribu Sehari

Avatar photo
×

Omzet Gerai KDKMP di Blora Belum Stabil, Ada yang Hanya Rp6 Ribu Sehari

Sebarkan artikel ini
Kondisi Barang KDMP Blungun Jepon yang semakin menipis. (Rozy/Harianpantura.com)

Blora, Harianpantura.com – Aktivitas perdagangan di sejumlah gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Blora, belum berjalan stabil. Selain dipengaruhi ketersediaan barang, omzet antargerai juga masih terpaut cukup jauh.

Pasiter Kodim 0721/Blora Kapten Inf. Maningsun mengatakan, rata-rata omzet gerai KDKMP yang telah beroperasi berada di kisaran Rp1,2 juta per hari. Namun, angka tersebut dapat berubah sesuai dengan kondisi stok barang di masing-masing gerai.

“Naik turun, tergantung barang yang tersedia,” ujarnya.

Sebanyak 55 KDKMP di Kabupaten Blora telah melakukan transaksi sejak diluncurkan secara serentak pada 16 Mei 2026. Berbagai kebutuhan pokok menjadi komoditas yang paling banyak dicari masyarakat, mulai dari beras, minyak goreng hingga LPG subsidi.

Namun, persoalan ketersediaan stok masih menjadi salah satu kendala dalam operasional KDKMP. Ketika barang mulai menipis atau habis, pengelola gerai melaporkan kondisi tersebut kepada pihak terkait untuk mendapatkan pasokan kembali.

“Harapannya bisa segera diisi ataupun dikirim,” jelas Maningsun.

Kondisi berbeda dirasakan KDKMP Desa Blungun. Asisten Manajer KDKMP Desa Blungun Ahmad Ryanto mengatakan, omzet gerainya mengalami penurunan tajam dalam dua bulan terakhir.

Menurutnya, omzet harian yang sebelumnya lebih baik kini maksimal hanya sekitar Rp200 ribu. Bahkan, gerai tersebut pernah mencatat omzet hanya Rp6 ribu dalam sehari.

“Saat ini menurun drastis. Per hari maksimal hanya bisa mengantongi Rp200 ribu, bahkan pernah Rp6 ribu,” ungkapnya.

Ahmad menyebut penurunan tersebut tidak terlepas dari sejumlah barang subsidi yang telah habis dan belum kembali mendapatkan pasokan. Kondisi itu membuat pilihan barang yang tersedia di gerai menjadi terbatas sehingga turut berdampak pada transaksi.

“Menurun karena banyak barang yang sampai sekarang belum disuplai lagi sama Agrinas,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Ahmad mengatakan haknya sebagai pengelola tetap telah diterima. Ia mengaku sudah mendapatkan gaji selama tiga bulan.

Pada bulan pertama, gaji yang diterima sebesar Rp500 ribu. Sementara pada bulan kedua dan ketiga, masing-masing sebesar Rp1,9 juta. (Syae)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *