BeritaPati

SRAYA FEST Desa Slungkep Ditutup dengan Panggung Gembira

Avatar photo
×

SRAYA FEST Desa Slungkep Ditutup dengan Panggung Gembira

Sebarkan artikel ini

Pati – Lapangan Desa Slungkep berubah menjadi panggung kreativitas masyarakat dalam penutupan rangkaian SRAYA FEST sekaligus peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Minggu (23/8/2026) malam. Mengusung tema “Kearifan Lokal”, Panggung Gembira menjadi ruang bagi generasi muda dan berbagai unsur pendidikan untuk mempersembahkan karya terbaik mereka.

Bukan sekadar pertunjukan hiburan, Panggung Gembira menjadi perayaan seni yang melibatkan berbagai instansi dan kelompok masyarakat. Panggung diisi dengan beragam karya, mulai dari gerak tari, menyanyi, macapat, hingga drama, yang ditampilkan oleh peserta dari TPQ, TK, PAUD, SD, serta sanggar-sanggar tari.

Keterlibatan berbagai jenjang tersebut menghadirkan suasana yang istimewa. Anak-anak usia dini hingga pelajar mendapat ruang untuk tampil di hadapan masyarakat, sementara para pendidik, orang tua, dan masyarakat turut memberikan dukungan. Panggung pun menjadi tempat bertemunya berbagai generasi dalam satu semangat: melestarikan budaya sekaligus merayakan kemerdekaan.

Seni tradisional dan kreativitas generasi muda juga berpadu dalam penampilan Sanggar Tari Nithu Rasa Jimbaran serta Beatrix Dance Crew SMA PGRI 2 Kayen. Perpaduan berbagai bentuk seni tersebut memperlihatkan bahwa kearifan lokal bukan sesuatu yang harus terpisah dari perkembangan zaman, melainkan dapat terus hidup melalui kreativitas generasi penerus.

Panggung Gembira merupakan bagian akhir dari rangkaian SRAYA FEST yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Mekar Rahayu, dengan Ketua Panitia Faishol Khamdani dan Penanggung Jawab Faisal Daris. Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Slungkep beserta seluruh jajarannya.

Sejumlah unsur masyarakat turut hadir dalam acara tersebut, mulai dari Kepala Desa, Ketua BPD, perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, Ketua RT/RW, hingga organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan seperti Karang Taruna, IPNU-IPPNU, PKK, serta masyarakat Desa Slungkep.

Dalam sambutannya, Kepala Desa mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mengisinya dengan tindakan yang bermanfaat.

“Semoga rangkaian kegiatan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap tindakan baik akan selalu dikenang dengan baik. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah anugerah yang harus disyukuri dengan terus berupaya menjadi manusia yang bermanfaat, menjaga persatuan, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat,” tuturnya.

Dengan menghadirkan karya seni dari berbagai jenjang pendidikan dan kelompok seni, Panggung Gembira menjadi gambaran nyata bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Macapat, tari, lagu, dan drama tidak hanya menjadi tontonan, tetapi menjadi cara bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan meneruskan warisan budaya.

Pada akhirnya, penutupan SRAYA FEST bukanlah sekadar berakhirnya sebuah rangkaian acara. Ia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan akan terus hidup selama masyarakat mau berkarya, budaya terus diwariskan, dan generasi muda diberi ruang untuk tumbuh.

Di panggung itu, anak-anak belajar berani. Budaya kembali bersuara. Dan Slungkep menunjukkan bahwa kearifan lokal adalah salah satu wajah terbaik dari kemerdekaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *