Rembang, Harianpantura.com – Puluhan penjual bunga (untuk keperluan ziarah), berjejer membuka lapak dagangan di sekitar area alun-alun Lasem, Senin (31/3/2025). Pemandangan semacam ini, setiap tahunnya dapat dijumpai ketika menjelang dan saat hari H Lebaran Idulfitri.
Bunga tersebut, orang sering menyebutnya “bunga tabur”. Hal ini dikarenakan bunga itu akan ditaburkan oleh peziarah, diatas makam orang yang telah meninggal.
Permintaan terhadap bunga tabur, semakin meningkat ketika menjelang dan saat hari H lebaran Idul Fitri. Tentu saja ini membawa keberkahan tersendiri bagi para penjual bunga tabur.
Hal inilah yang dirasakan oleh Jaspi (57 th), salah seorang penjual bunga asal Selopuro, Lasem. Ia membuka lapak bersama anaknya, Sulikah (35 th) yang juga berjualan disampingnya.
Sulikah mengaku, Ia dan ibunya berangkat dari rumah sebelum adzan subuh. Masyarakat biasanya mulai berdatangan untuk membeli bunga setelah pelaksanaan sholat Idul Fitri.
“Saya berangkat dari rumah dengan ibu saya, sebelum adzan subuh,” ungkap Sulikah.
Ia dan para penjual kembang yang lain, telah mulai berjualan dua hari sebelum Lebaran Idul Fitri.
“Kami mulai berjualan dua hari sebelum lebaran, ditambah dengan hari ini menjadi tiga hari,” jelas Sulikah.
Satu kantong plastik bunga, dihargai sepuluh ribu rupiah. Terdiri dari berbagai macam jenis bunga, seperti bunga gembong, gading, kenongo, mawar dan daun pandan.
Menurut pengakuan Sulikah, keuntungan yang diperolehnya selama tiga hari penjualan, hasilnya cukup lumayan.
“Modal awal kami sekitar 500 ribu. Hasilnya Alhamdulillah lumayan. Selama tiga hari ini, keuntungan bersih sekitar 2 juta. Ini rata, penjual yang lain juga segitu,” pungkas Sulikah.
Berbagai macam jenis bunga yang dijual oleh para pedagang, diketahui mereka peroleh dari petani bunga asal desa Kajar, Lasem. (Bas)




















































