Semarang, Harianpantura.com – Aktivitas pergerakan tanah kembali terjadi di Kampung Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Fenomena ini menyebabkan kerusakan serius pada rumah warga dan infrastruktur kampung, sehingga memicu kecemasan dan membuat sebagian warga mengungsi.
Pantauan di lokasi pada Kamis (5/2/2026) sore menunjukkan kondisi tanah di kawasan Sapta Marga 3, dekat Universitas Diponegoro (Undip), mengalami perubahan signifikan. Permukaan tanah tampak bergelombang dengan retakan memanjang di sejumlah titik. Di beberapa bagian, tanah bahkan menganga seperti amblesan, menandakan pergerakan masih aktif.
Pergerakan tanah juga berdampak pada akses jalan utama kampung yang menghubungkan Jangli dengan kawasan Undip. Jalan menurun tersebut kini patah dan ambles, sejajar dengan lokasi rumah warga yang roboh. Pengendara motor terpaksa melintas dengan sangat hati-hati, bahkan menuntun kendaraan demi menghindari risiko terjatuh.
Upaya warga menambal jalan secara swadaya tidak membuahkan hasil.
“Kami tambal malam hari, besoknya sudah terbuka lagi,” ujar Ketua RT setempat, Sukaryono.
Selain jalan, pergeseran tanah menyebabkan pipa air PAM putus hingga tiga kali dalam sehari. Sejumlah rumah warga juga mengalami kerusakan parah. Tiang penyangga miring, dinding kayu terbelah, dan lantai semen pecah tidak beraturan. Mayoritas rumah di kawasan tersebut merupakan bangunan nonpermanen berbahan kayu.
Pada Rabu (4/2/2026) sore, satu rumah milik Supriyadi dilaporkan roboh hingga rata dengan tanah. Sementara rumah milik Sri Darningsih mengalami pergeseran perlahan. Bangunan tersebut disebut telah bergeser sekitar dua meter dalam waktu tiga hari.
“Kalau malam sering terdengar suara pergerakan. Saat hujan deras, gesernya lebih cepat,” kata Sukaryono.
Akibat kondisi yang semakin berbahaya, sejumlah warga memilih mengungsi. Supriyadi pindah sementara ke wilayah Jabungan, Banyumanik, sedangkan Sri Darningsih mengungsi ke rumah kerabatnya di Mranggen.
Menurut Sukaryono, sedikitnya 10 rumah terdampak langsung peristiwa tanah gerak ini. Panjang retakan tanah diperkirakan mencapai 70 meter, dengan lebar celah di beberapa titik hingga 20 sentimeter. Ia menyebut kejadian serupa pernah terjadi sekitar 25 tahun lalu, namun kali ini dampaknya lebih luas.
“Kami diizinkan tinggal dan selama ini merawat lingkungan. Harapan kami, ada kebijakan yang benar-benar memperhatikan keselamatan warga,” ujarnya.
Kesaksian datang dari Ilham (18), pedagang cilok yang biasa berjualan di kawasan tersebut.
“Saya kaget, baru tahu jalannya sudah terbuka lebar begini. Biasanya tiap sore ke sini,” katanya.
Ia mengaku mengurungkan niat masuk ke kampung setelah diingatkan warga karena khawatir tergelincir.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, menyatakan curah hujan tinggi menjadi pemicu utama pergerakan tanah di wilayah tersebut.
“Air hujan meresap ke dalam tanah, menambah beban dan mengurangi ikatan antarpartikel. Kondisi ini membuat tanah menjadi lembek dan mudah bergerak,” jelas Endro.
BPBD bersama instansi terkait telah melakukan asesmen lapangan sejak Rabu. Peristiwa tanah gerak ini tercatat terjadi sejak 24 Januari 2026. Total kerugian material ditaksir mencapai sekitar Rp45,75 juta. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. (Red)





















































