BeritaPeristiwa

Pemprov Jateng Pastikan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan Akibat Tambang

Avatar photo
×

Pemprov Jateng Pastikan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan Akibat Tambang

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Agus Sugiharto menunjukkan peta lereng Gunung Slamet. (Istimewa)

Semarang, Harianpantura.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan bencana tanah longsor di lereng Gunung Slamet, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, tidak disebabkan oleh aktivitas penambangan. Kepastian itu diperoleh dari hasil tinjauan lapangan dan kajian teknis Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng.

Kepala Dinas ESDM Jateng Agus Sugiharto mengatakan pihaknya rutin melakukan mitigasi bencana dengan menyampaikan informasi potensi gerakan tanah kepada bupati dan wali kota setiap bulan, terutama saat musim penghujan. Informasi tersebut disusun dari overlay peta rawan longsor dengan data prakiraan cuaca dan curah hujan dari BMKG.

“Setiap bulan kami merilis peta potensi gerakan tanah yang dilengkapi tabulasi curah hujan dan tingkat kerawanan, mulai dari rendah hingga tinggi. Ini kami sebarkan sebagai peringatan dini agar daerah bisa meningkatkan kewaspadaan,” katanya.

Selain itu, Dinas ESDM juga melakukan penataan aktivitas pertambangan serta mengirimkan surat peringatan kepada pelaku usaha agar menjalankan kegiatan sesuai ketentuan administratif, teknis, good mining practice, dan aturan lingkungan. Sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan bencana juga terus dilakukan agar warga segera mengamankan diri saat terjadi hujan lebat berdurasi panjang.

Terkait penyebab longsor di lereng Gunung Slamet, Agus menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada lereng terjal akibat curah hujan ekstrem selama beberapa hari. Kondisi itu membuat tanah jenuh air sehingga kestabilan lereng menurun.

“Tanah yang gembur memiliki porositas tinggi. Ketika terisi air hingga mencapai titik jenuh, ditambah kemiringan lereng yang curam, maka kestabilannya terganggu dan terjadi longsor,” katanya.

Ia menambahkan faktor utama pemicu longsor meliputi intensitas hujan tinggi, kondisi litologi atau jenis batuan yang mudah lapuk, serta kelerengan terjal. Agus juga menegaskan lokasi tambang berada di kaki Gunung Slamet dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari mahkota longsoran.

“Tidak ada penambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet. Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor,” katanya.

Melalui penyampaian informasi, peringatan dini, dan penegakan aturan yang konsisten, pihaknya berharap masyarakat memahami bahwa longsor merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi dan diantisipasi.

“Kami memberikan perhatian kepada warga yang terdampak bencana. Dan kami akan terus berupaya melakukan upaya pencegahan terhadap potensi bencana di Jawa Tengah,” katanya. (Red)

Pencarian Otomatis di Situs + Excel

🔍 Pencarian Otomatis di Situs + Ekspor Excel



JudulLink

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian YouTube ke Excel

Cari Video di Channel YouTube & Download Excel

JudulLink