BeritaEkonomi

Embun Upas Kembali Selimuti Dieng, Kunjungan Wisatawan Melonjak

Avatar photo
×

Embun Upas Kembali Selimuti Dieng, Kunjungan Wisatawan Melonjak

Sebarkan artikel ini
Embun upas menyelimuti Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. (Istimewa)

Banjarnegara, Harianpantura.com – Fenomena embun upas kembali muncul di kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau tahun ini. Kemunculan embun es yang bertepatan dengan masa liburan sekolah tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Banjarnegara Tursiman mengatakan embun upas merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di Dieng, terutama di kawasan Kompleks Candi Arjuna saat musim kemarau.

“Ini merupakan fenomena alam yang memang terjadi. Biar masyarakat tahu dan wisatawan juga banyak hadir ke sana untuk menikmati suasana ini,” katanya, Kamis (9/7/2027).

Ia menjelaskan, pada Juli hingga Agustus suhu udara di Dieng pada dini hari dapat turun hingga di bawah titik beku. Berdasarkan pengalaman beberapa tahun sebelumnya, suhu di kawasan tersebut umumnya mencapai minus 1 hingga minus 2 derajat Celsius, bahkan dalam kondisi tertentu bisa lebih rendah.

Menurut Tursiman, pihaknya terus mempromosikan fenomena embun upas sebagai salah satu daya tarik wisata khas Dieng dengan tetap mengimbau wisatawan menjaga kelestarian kawasan dan memperhatikan kondisi cuaca.

Sementara itu, Kepala Bidang Kelembagaan, Sumber Daya Manusia, dan Pemasaran Dinparbud Banjarnegara Eko Sri Wurjani Juniasih mengatakan kemunculan embun upas yang bertepatan dengan liburan sekolah membawa dampak positif terhadap sektor pariwisata.

“Alhamdulillah ini bertepatan dengan liburan sekolah. Kunjungan sangat signifikan naiknya karena terkait isu embun upas. Banyak wisatawan yang tertarik karena fenomena alam ini memang jarang terjadi, sehingga mereka beramai-ramai datang ke Dieng, banyak juga yang berwisata bersama keluarga,” katanya.

Ia mengatakan embun upas telah muncul sekitar enam hingga tujuh kali selama musim kemarau tahun ini. Fenomena tersebut pertama kali terjadi pada awal Juni ketika suhu udara mencapai sekitar minus 2 derajat Celsius, kemudian kembali muncul beberapa kali pada awal Juli.

“Bahkan pada Kamis (9/7) pagi, suhu udara mencapai minus 6 derajat Celcius berdasarkan pencatatan yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Dieng,” ujarnya.

Menurut Eko, embun upas menjadi magnet yang ikut mendongkrak jumlah wisatawan ke Dieng.

“Berdasarkan data penjualan tiket, jumlah wisatawan ke Dieng sepanjang 2026 menunjukkan tren meningkat, yakni Januari sebanyak 69.225 orang, Februari 32.982 orang, Maret 87.031 orang, April 68.799 orang, Mei 89.793 orang, dan Juni 131.970 orang. Sementara pada periode 1-9 Juli 2026 jumlah wisatawan telah mencapai 67.421 orang,” katanya.

Ia berharap suhu dingin yang memicu kemunculan embun upas masih bertahan hingga penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 pada 28-30 Agustus mendatang.

“Apabila fenomena tersebut masih terjadi saat festival berlangsung, embun upas dapat menjadi daya tarik tambahan yang semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Dataran Tinggi Dieng,” katanya.

Embun upas atau embun es merupakan lapisan kristal es tipis yang terbentuk di permukaan rumput dan tanaman akibat suhu udara yang sangat rendah pada malam hingga dini hari. Fenomena musiman tersebut hampir selalu muncul di Dataran Tinggi Dieng saat musim kemarau dan menjadi salah satu atraksi alam yang paling dinantikan wisatawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *