Kudus, Harianpantura.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah tengah menyiapkan rencana pembangunan sistem transportasi massal lintas kabupaten, dengan Kabupaten Kudus diproyeksikan sebagai pusat atau hub utama.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kudus Sulistiyowati mengatakan, proyek akan dimulai dengan identifikasi jalur pada 2026 dan ditargetkan mulai konstruksi pada 2027.
“Proyek tersebut akan dimulai dengan proses identifikasi jalur pada tahun 2026, dan ditargetkan mulai konstruksi pada 2027,” ujarnya di Kudus, Sabtu (9/8/2025).
Ia menambahkan, rencana tersebut telah mendapat persetujuan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris.
“Titik pertama yang diminta persetujuannya Kabupaten Kudus dulu, karena tanpa persetujuan dari Kudus tentunya tidak bisa jalan,” katanya.
Berdasarkan pemaparan Pemprov Jateng, sistem transportasi ini akan menghubungkan Jepara, Pati, dan Demak, dengan Kudus sebagai pusat.
“Jika Kudus tidak menjadi bagian dari proyek ini, maka jalur dari Demak ke Jepara dan Pati akan sulit direalisasikan,” tegas Sulistiyowati.
Tahapan identifikasi jalur akan melibatkan banyak pihak, sehingga tidak hanya diputuskan Pemkab Kudus. Seluruh pembiayaan proyek bersumber dari APBD Provinsi Jateng, termasuk penyediaan armada, pembangunan halte, dan sarana pendukung lain.
“Ini semua anggaran dari provinsi. Karena lintas kabupaten, jadi semuanya ditanggung APBD Provinsi Jateng,” jelasnya.
Pembangunan transportasi publik ini bertujuan mengatasi kemacetan, terutama di jalur padat seperti Kudus–Jepara. “Kalau kita lihat sekarang, Kudus sudah mulai macet terutama ke arah Jepara. Maka penting untuk membangun sistem transportasi publik yang nyaman, agar warga beralih dari kendaraan pribadi,” ujarnya.
Ia menambahkan, transportasi massal ini juga diharapkan menurunkan emisi karbon. Layanannya tetap berbayar namun terjangkau, seperti Trans Jogja atau Trans Semarang. “Hanya sekitar Rp4.000 sampai Rp6.000,” katanya.
Sistem akan menggunakan halte khusus dan tidak berhenti sembarangan. “Naik turunnya di halte, enggak bisa sembarangan nyegat. Karena ini transportasi publik modern, ya harus tertib,” pungkasnya. (Red)





















































