Semarang, Harianpantura.com – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menegaskan pentingnya pengembangan desa wisata sebagai salah satu strategi utama untuk meratakan pembangunan ekonomi di wilayah pedesaan. Menurutnya, desa wisata bukan sekadar destinasi pariwisata, melainkan juga sarana pemberdayaan masyarakat setempat.
Saleh menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata membuka banyak peluang usaha bagi warga lokal di berbagai bidang.
“Mulai dari homestay, kerajinan tangan, hingga kuliner khas daerah semua bisa menjadi sumber pendapatan baru,” ujarnya.
Ia mencontohkan keberhasilan Desa Wisata Kandri di Semarang yang mampu menarik wisatawan dengan atraksi susur goa dan batik ecoprint.
Selain itu, Saleh menyoroti keberhasilan Desa Wisata Kemuning di Karanganyar yang mengembangkan agroedutourism berbasis kebun teh.
“Ini bukti bahwa desa wisata bisa menjadi solusi pengentasan kemiskinan,” tambahnya, menegaskan peran desa wisata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mewujudkan potensi tersebut, Saleh mengajak pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta untuk bekerja sama secara sinergis.
“Kami mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan pengelolaan desa wisata dan pembangunan infrastruktur pendukung seperti akses jalan dan WiFi gratis,” jelasnya, sebagai bentuk komitmen nyata DPRD.
Dukungan lain juga diberikan melalui program pendampingan UMKM yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Jawa Tengah. DPRD menargetkan pengelolaan 100 desa wisata yang berkualitas hingga tahun 2025.
“Prioritas kami adalah desa dengan potensi alam dan budaya unik, seperti Desa Dieng Kulon yang mengandalkan wisata budaya Sindoro Sumbing,” papar Saleh.
Meski optimis dengan potensi besar desa wisata, Saleh mengakui masih ada tantangan yang harus dihadapi, seperti minimnya promosi dan keterbatasan sumber daya manusia.
“Kami akan intensifkan pelatihan digital marketing agar produk lokal bisa menjangkau pasar nasional,” pungkasnya. (Adv)





















































