Kudus, Harianpantura.com – Peternak ayam petelur di Kabupaten Kudus, menghadapi tekanan akibat merosotnya harga telur selama masa libur sekolah. Penurunan permintaan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut menjadi salah satu penyebab utama anjloknya harga di tingkat peternak.
Salah seorang peternak ayam petelur di Kudus, Jiman, mengatakan harga telur yang sebelumnya mencapai Rp26.000 per kilogram kini hanya berkisar Rp20.000 per kilogram di tingkat peternak.
Menurut dia, selama ini sebagian produksi telurnya rutin diserap oleh sejumlah SPPG. Namun, ketika aktivitas sekolah berhenti selama libur, operasional SPPG juga ikut terhenti sehingga permintaan telur turun tajam.
Kondisi tersebut menyebabkan ribuan butir telur yang biasanya terserap setiap hari masuk ke pasar umum. Melimpahnya pasokan membuat harga telur terus tertekan karena tidak diimbangi peningkatan permintaan.
Jiman mengaku pernah mengalami situasi serupa beberapa tahun lalu. Saat itu harga telur tidak kunjung pulih sehingga ia terpaksa menjual seluruh ayam petelurnya dengan harga murah untuk menekan kerugian.
“Agar usaha tetap menguntungkan, harga telur idealnya berada di kisaran Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram. Sementara dengan populasi lebih dari 4.000 ekor ayam petelur, biaya pakan yang harus dikeluarkan hampir Rp3 juta setiap hari, belum termasuk vitamin dan upah dua orang pekerja,” ujarnya.
Meski harga belum membaik, ia memilih tetap mempertahankan usahanya sambil berharap permintaan kembali meningkat setelah kegiatan belajar mengajar dimulai.
Sementara itu, Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi, dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sonhaji, membenarkan adanya penurunan harga telur ayam ras di pasaran.
“Dari semula mencapai Rp26 ribu per kilogram pada 24 Juni 2026, kini turun menjadi sekitar Rp23 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Kudus,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Kudus memperkirakan penurunan harga tersebut hanya bersifat sementara. Harga telur diharapkan kembali stabil setelah aktivitas sekolah berjalan normal dan permintaan dari SPPG kembali meningkat. (Red)


















































