Semarang, Harianpantura.com – Aksi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang berangkat ke kantor dengan bersepeda bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada Kamis (9/4/2026) menjadi sorotan publik. Bukan semata karena ajakan hidup sehat dan hemat energi yang diusung, melainkan jenis sepeda listrik yang digunakannya yang dinilai bernilai tinggi.
Berdasarkan penelusuran, Ahmad Luthfi mengendarai sepeda gunung listrik (electric mountain bike/e-MTB) keluaran pabrikan Amerika Serikat, Specialized, seri Turbo Levo Comp generasi ketiga. Sepeda ini dikenal memiliki spesifikasi premium. Sistem penggeraknya menggunakan Specialized Turbo Full Power System 2.2 dengan torsi mencapai 90 Nm dan tenaga 565 watt, yang mampu meningkatkan tenaga kayuhan hingga empat kali lipat. Baterai berkapasitas 700Wh yang tertanam di rangka diklaim mampu digunakan selama tiga hingga lima jam perjalanan.
Dari sisi konstruksi, sepeda ini tersedia dalam material serat karbon maupun alloy premium, serta dilengkapi suspensi depan dan belakang dari FOX dengan travel panjang untuk kebutuhan medan berat. Konfigurasi rodanya mengusung model mullet, yakni kombinasi roda depan 29 inci dan belakang 27,5 inci untuk keseimbangan antara stabilitas dan kelincahan. Fitur lainnya mencakup layar MasterMind TCU yang terintegrasi dengan aplikasi Mission Control, serta sistem penggerak 12-percepatan SRAM GX Eagle.
Di Indonesia, sepeda seri Turbo Levo dipasarkan dengan harga yang tidak murah. Secara umum, banderolnya berada di kisaran Rp130 juta hingga Rp190 juta, bahkan varian tertingginya bisa menembus Rp250 juta. Untuk tipe Comp Carbon terbaru, harganya diperkirakan sekitar Rp110 juta hingga Rp145 juta, sementara versi Comp Alloy berkisar Rp85 juta hingga Rp100 juta. Adapun unit bekasnya masih dihargai antara Rp65 juta sampai Rp90 juta, tergantung kondisi.
Kegiatan bersepeda tersebut merupakan bagian dari kampanye penghematan energi yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Rute yang ditempuh sekitar tujuh kilometer, dimulai dari Masjid Raya Baiturrahman, melewati kawasan Simpang Lima dan Tugu Muda, hingga berakhir di Kantor Gubernur. Ahmad Luthfi menyebut langkah ini sebagai upaya memberi teladan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat.
“Saya lihat ASN kita ada yang naik sepeda, ada yang naik kendaraan listrik, hingga angkot. Jadikan budaya sehingga menjadi senang dan tidak terasa berat,” ujarnya.
Kampanye tersebut juga sejalan dengan kebijakan efisiensi energi yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri serta Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah tahun 2026 mengenai transformasi budaya kerja ASN. Beberapa poin di antaranya meliputi pembatasan penggunaan kendaraan dinas hingga 50 persen, penerapan work from home setiap Jumat bagi sebagian ASN, pembatasan penggunaan listrik kantor pada jam tertentu, serta anjuran penggunaan transportasi ramah lingkungan seperti berjalan kaki, bersepeda, atau transportasi umum.
Meski membawa pesan positif, aksi tersebut menuai kritik dari Direktur Eksekutif BINTARI Foundation, Amalia Wulansari. Ia menilai penggunaan sepeda dengan harga tinggi berpotensi menimbulkan kesan kontradiktif terhadap ajakan hidup hemat yang disampaikan.
“Pesan hidup hemat menjadi sulit diterima publik ketika seorang pemimpin mengajak bawahan berhemat, tetapi Gubernur Jateng sendiri memakai fasilitas seharga mobil. Pejabat publik selalu mendapat sorotan atas kesesuaian gaya hidup mereka. Pemakaian barang mewah di ruang terbuka terkesan kurang peka terhadap kesulitan ekonomi warga,” katanya, Senin (13/4/2026).
Amalia juga menyoroti fenomena di era digital di mana masyarakat semakin kritis terhadap gaya hidup pejabat publik yang dinilai berlebihan atau cenderung pamer kekayaan.
“Penting untuk mengingat kembali persoalan esensi dan tujuan dari penghematan energi itu sendiri, yaitu membangun budaya peduli dan ramah lingkungan,” tegasnya.
Menurutnya, pejabat publik tidak harus menampilkan citra serba sederhana secara berlebihan, namun tetap perlu menjaga sensitivitas sosial dan menghindari kesan kemewahan yang dapat mengaburkan pesan utama kebijakan.
“Pemimpin idealnya menjadi contoh pertama dalam kesederhanaan agar esensi edukasi lingkungan tidak kabur oleh sorotan gaya hidup mewah,” tandasnya. (Red)


















































